Tampilkan postingan dengan label Sastra Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 13, 2012

konsep Siri' Na Pacce Bugis Makassar III


Selanjutnya dapat kita kita lihat nilai-nilai positif dan negatih dari Siri.


Segi positifnya


Ø Bertolak dari hakikat Siri yakni masalah harga diri, maka Siri sesungguhnya merupakan hal yang sangat positif untuk dikembangkan sebagai kepentingan kemajuan masyarakat yang sudah berlembaga dengan tatanan nilai-nilai budaya.


Ø Siri pada pokoknya bersumber pada dasar dan nilai-nilai bentuk ikatan dalam masyarakat untuk menaati hukum, peraturan,perjanjian dan lain-lain dalam ikatan masyarakat.


Ø Dengan prinsif Siri,mendorong masyarakat untuk tidak tertinggal dalam bentuk kemajuan zaman.


Ø Siri merupakan harkat yang berlembaga dan hidup terus di dalam hati masyarakat yang menjaganya.


Ø Siri dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kepentingan kemajuan masyarakat karena disebabkan oleh rasa solidaritas yang tinggi terhadap nilai-nilai apa saja yang bersifat untuk kepentingan kemajuan masyarakat.


Ø Siri oleh masyarakat Sulawesi Selatan telah dianggap suatu nilai budaya yang harus dipegang teguh.














Segi Negatifnya.


Ø Siri banyak diselewengkan oleh pribadi-pribadi pembawanya, menyimpang dari hakikatnya sebagai aspek kebudayaan yang nilainya luhur.


Ø Terkadang nilai Siri ditunggangi untuk kepentingan mencapai sasaran dan melindungi perbuatan-perbuatan yang negatif dan sementara pelaku-pelaku kasus kejahatan tersebut.
Read more »

Konsep Siri' Na Pacce Bugis Makassar II


Dari kedua syair di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Bugis-Makassar adalah kaum yang pantang menyerah menghadapi tantangan bagaimanapun wujudnya,karena menyerah dalam menghadapi tantangan dinilai sebagai Siri.

Selain tegar menghadapi tantangan, orang Bugis-Makassar juga tidak mengenal kompromi. Hal ini dapat dilihat pada kata yang berbunyi: Bawakuji akkaraeng badikku tena na akkaraeng.


(Hanya mulutku yang mengatakan tuan danlam memberi penghormatan,tetapi badikku tidak memandang bulu).
Kemudaian jika Siri dipandang dari segi islam maka, hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud,at-Tarmidzi dan Ibnu Majah, dalam buku yang berjudul “Menggali Nilai-Nilai Budaya Bugis Makassar Siri Na Pacce (73) mengatakan bahwa
“ Barang siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka iapun mati sahid, dan barang siapa yang terbunuh karna mempertahankan darahnya maka iapun mati sahid,dan barang siapa yang terbuinuh karena mempertahankan agamanya, maka iapun mati sahid, dan barang siapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka iapun mati sahid”.
Teranglah dalam hadis ini bahwa agama mengakui Siri. Tetapi, lebih jelas lagi bahwa agama mengakui dan memberikan tuntunan yang positif terhadap Siri,sehingga karena niatnya yang ikhlas kematian seseorang tidak sia-sia.

Erington menambahkan bahwa “Siri jelas ada hubungannya dengan susunan masyarakat yang makin meningkat,makin bangsawan seseorang maka makin banyak sirinya yang harus dijaga.dan mereka bersatu siri,tolong menolong bukan hanya dalam suka tetapi juga dalam duka”.
Di sisi lain dapat ditarik kesimpulan bahwa, Siri tidaklah identik dengan pembunuhan dan kekerasan atau dasar luapan emosional dan luapan rasa dendam yang tak terkendali. Tetapi ia lebih banyak bertahan pada harga diri yang merupakan sub kultur budaya Bugis Makassar.
Selanjutnya mengenai Pacce (Makassar),dan Pesse (Bugis) yang merupakan salah satu cirri orang Bugis Makassar.
Suku Bugis Makassar, selain menjunjungn tinggi segala sesuatu yang bersangkutan dengan Siri,mereka memegang teguh prinsif Pacce.
PACCE = PESSE Pedis atau perih. Pacce jika dikaji lebih luas merupakan perasaan yang terbit dari kalbu yang dapat menuju pada sebuah tindakan.
“punna tena sirina pa’niaki paccenu”(jika kau tak punya harga diri tunjukkan bahwa kau masih memiliki rasa setia kawan)
“Rekkuade Sirita engka messa Pesseta”(jika tidak ada siri niscaya masih ada pessenya).
Ini dapat menjadi pegangan dan landasan bagi suku Bugis Makassar sebagai warga atau suku yang memiliki loyalitas yang mendalam, begitupun sikap balas budi.






Dari semboyan diatas nyatalah bahwa Siri Na Pacce adalah dua bahagian yang tidak dapat dipisahkan dalam budaya Bugis Makassar.


“Sipakkasiriki Nasipappaccei”(saling menjaga harga diri).


Sehingga jika seseorang meninggal karena mempertahankan Sirinya,dia disebut sebagai mate rigollai atau mate risantangi(Mati berlumur santan atau mati secara terhormat atau mulia).






Anggasseng tonja la’ba boyo


Pacce tana ebba lading


Tena garringku


Namalantang Pa’risikku.






Artinya


Daku nikmati tawarnya labu


Pedis tak tergores pisau


Ku tak menderita penyakit Namun betapa pedih terasa menusuk jauh di lubuk hati.






Dari syair diatas tampak bahwa kepedihan yang tiada tara, karena martabat dan harga diri yang tersinggung.inilah hakikat dasar apa yang disebut Pacce sebagai lanjutan dari siri.






(Lanjut ke halaman III)
Read more »

Minggu, Februari 12, 2012

Konsep Siri na pacce Bugis Makassar

Jika kita berbicara tentang Siri Na Pacce (Bugis Makassar) maka, kita tidak dapat terlepas dari persoalan kebudayaan.Hal ini disebabkan karena Siri atau Pacce adalah kelakuan atau hasil dari kelakuan masyarakat yang kemudian diwariskan kepada generasi-generasinya sebagai pusaka yang mesti dijunjung dan dilestarikan sebagaimana peran masyarakat dalam menjalani hidup dan kehidupannya sebagai warga yang mengaku berdarah Bugis dan Makassar.

Dalam lingkunga Antropologi, defenisi kebudayaan dirumuskan sebagai “keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatinya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat”. Dari pengertian di atas maka jelaslah bahwa Siri Na Pacce merupakan bahagian dari kebudayaan yang untuk mendapatinya dan memahami lebih jauh diperlukan sebuah proses yaitu belajar.
Kemudian untuk memahami lebih jauh maka, sebelumnya kita pelu mengetahui apa pengertian dari Siri itu sendiri.
Siri :   malu 
       :   Harga diri atau kehormatan  
       :   Pernyataan tidak serakah
Selai daripada itu, Siri juga merupakan sistim budaya yang mengikat masyarakat untuk berbuat dan mempertahankan harga diri dan martabatnya sebagai individu dan anggota masyarakat.
          Kemudian, dikatakan pula bahwa penilaian terhadap seseorang (bugis Makassar) adalah mereka yang memegang harga diri (Siri) dan lima Paseng (pesan atau petuah) sebagai berikut:
ØAda tongeng       (berkata dengan benar)
.  Lempuk               (kejujuran)
ØGetteng               (berpgang teguh pada prisif keyakinan)
ØSipakatau           (saling menghormati)
 Mappisona ri Dewata Seuawae    (pasrah pada kekuasaan tuhan     Yang Maha Esa)

Nilai-nilai Siri sebagai sikap mental orang-orang Bugis-Makassar     dapat dilihat dari syair yang berbunyi:

 Takunjunga bangung turu             
 Nakugunciri gulingku
Kuallena
Tallanga na toalia.
Artinya
    Semuanya kuperturutkan arus mengalir
   Kemudi kutancarkan
   Dan kupilih
   Lebih baik tenggelam daripada surut kembali tanpa hasil.

 Kusoronna biseangku
        Kucampa’na sombalakku
        Tammamelakka
        Punna teai labuang.
Artinya

      Kudayun sampanku laju
      Kukembangkan layar
      Pantang berbelok kearah lain
      Kecualin arah pantai berlabuh.

 (Lanjut ke halaman berikut II)

Read more »

Minggu, Januari 01, 2012

Pertumbuhan dan Perkembangan Sastra Indonesia VI


1.      Periode Kontenporer (angkatan 70 an)
Penamaan ini muncul sejak Sutardji Calzoum  Bachri menolak kata sebagai tumpuan ide. Puisi kontenporer biasa juga disebut puisi neko-neko, puisi lagu, puisi beling. Cirri-ciri sastra kontenporer, khususnya bidang puisi yaitu:
a.       Puisi yang menolak kata sebagai media ekspresi. (Danarto) contohnya







b.      Puisi yang bertumpu pada symbol-simbol non kata, dan menampilkan seminimal mungkin kata sebagai intinya, (Jeihan) contohnya

Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
                  V
!VIVA PANCASILA!
c.       Puisi yang bebas memasukkan unsure-unsur bahasa asing atau bahas daerah, (Darmanto. JT.)
d.      Puisi yang memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikkan dan belum di kenal masyarakat umum, (Sides Sudyarto).
e.       Puisi dengan tipografi secara cermat, sebagai bagian dari ekspresi, puisi berpijak pada bahasa konvensional, tetapi diberi tenaga baru dengan cara menciptakan idiom-idiom baru,puisi yang memotong-motong kata menjadi suku kata dan membalikkan suku kata tersebut (Sutardji Calzoum Bachri)

Tragedi Winka Siska
Kawin
            Kawin
                        Kawin
                                    Kawin
                                                Kawin
                                                            Ka
                                                Win
                                    Ka
                        Win
            Ka
Win
                                             Ka
                                    Win
                                    Ka
                                           Winka
                                                      Winka
                                                                Winka
                                                                           Sihka
                                                                                    Sihka
                                                                                            Sihka
                                                                                                    Sih
                                                                                                         Ka
                                                                                                     Sih
                                                                                                 Ka
                                                                                             Sih
                                                                                         Ka
                                                                                    Sih
                                                                                Ka
                                                                        Sih
                                                                  Ka
                                                                       Sih
                                                                            Sih
                                                                                Sih
                                                                                     Sih
                                                                                          Sih
                                                                                               Sih
                                                                                                    Ka
                                                                                                        Ku
                                              
  (sutardji Calzoum Bachri, 1983)        

                                    Tema yang dikemukakan dalam puisi angkatan 70 an ialah:
a.       Temanya tentang protes tentang kepincangan sosial dan tampak negative dan industialisasi.
b.      Temanya humanism yang mengemukakan kesadaran bahwa manusia adalah subjek pembangun dan bukan obyek pembangunan
c.       Tema yang dilukiskan melalui alegori dan parable.
d.      Tema tentang perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia berupa perjuangan untuk kebebasan, persamaan hak, pemerataan dan bebas pencemaran teknologi modern
e.       Temannya , kritik sosial terhadap tindakan sewenang-wenang dari yang menyelewangkan kekuasaan dan jabatan (Pradopo, 1948).
     
Adapun pengarang lain angkatan ini seperti, Yudhistira Ardinugraha, Linus Suryadi, gunoto Saparie (puisi) yakni Melancholia 1979, putih!putih!putih! 1976, Kendal 1976 dan solitaire 1981.
Rusli Marsuki saria, juga menerbitkan tiga kumpulan puisa yakni, Ada Ratap Ada Nyanyi, tema-tema Kecil, Putri Bunga Karang.
Husni Djamaluddin lahir di Tinambung (sulawesi) 10 November 1943. Menjabat sebagai sekretaris PWI Makassar dan wakil ketua Dewan Keseniaan Makassar. Kumpulan sajak-sajaknya: Puisi Akhir Tahun(1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), bersama Rahman Age, Aspar, Sinansari Ecip ia menulis sajak-sajak dari Makassar (!1974), Puisi Asean (1978).
                                                                       
Read more »

Pertumbuhan dan Perkembangan Sastra Indonesia V


1.        Periode 45 (angkatan 45) . pengakuan berdirinya angkatan 45, yaitu berdasarkan   surat Kepercayaan Gelanggang yang tertanggal 18-2-1950 dan disiarkan dalam majalah siasat  tanggal 22-10-1950. Mengenai isinya dapat disimpulkan sebagai berikut:
Titik perhatian angkatan 45 ialah Kebudayaan Dunia yang Bersifat Universal. Dan menurut pandangan mereka bahwa seniman-seniman itu adalah manusia universal yang muncul dengan corak Indonesia.

Kebudayaan Indonesia baru itu tidak hanya disajikan untuk Indonesia saja melainkan manusia se dunia. Hal ini berarti kebudayaan baru harus meningggalkan kebudayaan lama yang hanya mementingkan unsure-unsur kedaerahan saja, artinya kebudayaan yang bersifat universal atau dengan kata lain memiliki konsep humanism universal.angkatan 45 merupakan angkatan yang bergaya ekspresif dan revolusioner. Dalam hal ini tidaklah mengherankan, mengingat bahwa, pengarang yang tampil pada awal periode 45 adalah mereka yang telah banyak berbuat pada zaman Jepang, seperti Idrus dan Chairil Anwar. Kedua sastrawan ini dianggap sebagai pelopor angkatan 45, chairil dibidang puisi dan Idrus dibidang prosa.

Chairi di pandang sebagai pelopor dibidang puisi karena ia yang membawa perubahan secara radikal dalam bidang puisi Indonesia sesudah perang. Hal tersebut dapat kita lihat pada sajaknya yang berjudul Aku.
Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorangpun kan meraya
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Bentuk isi dan gaya sajak tersebut sudah berbeda dengan sajak-sajak sebelum perang. Oleh karena itu sajak ini dianggap pelopor angkatan 45. Jika di amati lebih jauh, gaya bahasanya bersifat individual dan revolusioner, isinya tentang masyarakat modern serta pengungkapannya ekspresif.pelopor angkatan ini antara lain:
a.       Idrus. Dengan karyanya yang berjudul Soerabaya dan Corat-coret di bawah tanah, akhirnya dia dia dianggap sebagai polopor angkatan ini di bidang prosa. di bidang cerpen pengarang-pengarangnya seperti, Subagyo Juwono, riyono Pratikno, Muhammad Ali Maricar, M Balfas, Ajib Rosidi, bakri Siregar dll.
Adapun aliran-aliran yang ada dalam angkatan ini antara lain:
v  Golongan gelanggang
Golongan ini tidak terikat oleh isme tertentu, konsepsinya Humanisme universal.anggotanya antara lain: Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus, Pramudya Ananta Tur, Sitor Situmoran, Usmar Ismail dll.
v  Golongan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) alirannya komunisme, konsepsinya realism sosialisme.tokohnya yang dikenal antara lain: Buyung Saleh, A.S. Dharta, Bakri Siregar, Bachtiar Siagian, Bandaharo Harahap dll.
v  Golongan penganut agama tertentu, diantaranya: Bahrum Rangkuti (penyair Islam), Wiratmo Sukito (essai dari golongan khatolik), W.S. Rendra (essai dari golongan Khatolik).

Penyair-penyair dalam bentuk sajak antara lain: Mahatmanto, Aoh Kartahardimaja, Nugroho dan M.A. Juhana, Taslim Ali, Amal Hamzah, Rustandi Kartakusuma, Toto sudarto Bachtiar (pahlawan tak di kenal), Kirjomulya, Dodong Jiwapraja, W.S. Rendra (tergolong penyair yang banyak mempersialkan kemanusiaan, kumpulan sajaknya yang terkenal ialah Balada Orang-Orang Tercinta. Salah satu sajaknya yang dimuat dalam buku kumpulan sajaknya yaitu berjudul Terbunuhnya Atmo Karpo)

Terbunuhnya Atmo karpo
Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk peru
Mengepit kuat lutut penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawipun telanjang.

Sagenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
Menunggang baja dan kuda mengangkang kaki muka
Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun matiku jauh orang papa
Majulah, Djoko Pandan! Di mana ia ?
Majulah ia karena padanya seorang ku kandung dosa

Anak panah empat arah, musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang

Badan perutnya tapi masih setan ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
Menggertak kuda di tiap ayun menungging kepala.

Berita ringkik kuda muncullah Djoko Pandan
Segera menyibak bagi derapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama kudanya sama baja
Pada langkah ketiga rubulah Atmo Karpo
Panas luka-luka terbuka daging kelopak-kelopak angkosa.

Malam pandang meneguk menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapaknya.

v  Golongan pengarang wanita angkatan 45 diantaranya:
a.       Ida Nasution, pengarang essai
b.      St. Nuraeni, penerjemah berbagai sastra dunia
c.       Waluyati, sajaknya berjudul Engkau, Telaga Remaja, Berpisah. Di samping itu iapun menulis novel berjudul Pujani.
d.      Nursyamsu, sajak-sajaknya berjudul Membayar Utang Jeritan Malam, Tinggi Hati dll.
Lanjut kehalaman selanjutnya,........
Read more »

Jumat, Desember 23, 2011

Lanjutan Pertumbuhan dan perkembangan sastra, IV


3.  Periode Jepang ( Zaman pemerointahan Jepang 1942-1945)
     Zaman ini merupakan salah satu zaman yang penting dalam dunia    kesusastraan. Hal ini di akibatkan karena Jepang mengharuskan pemakaian bahasa Indonesia di seluruh nusantara. Dengan demikian jelas memacu pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Sehingga pertumbuhan sastra Indonesiapun mengalami perkembangan yang pesat. Namun pada akhirnya, Jepang hanya mengumbar janji-janjinya, di samping itu merekapun melakukan tindak kekejaman dan penindasan bagi rakyat Indonesia. Melihat hal itu kaum sastrawan menimbulkan kebimbangan karena tak tahu tujuan Jepang yang sebenarnya, mereka pun takut mengeluarkan pendapat serta kesal dan benci terhadap Jepang.
     Maka tidak heran bila sastrawan memberontak dalam karya-karya mereka baik yang berupa puisi maupun prosa. Namun untuk menghindari sensor Jepang, pada umumnya karangan mereka bercorak simbolik. Adapun beberapa penyair zaman ini antara lain:
a.       Usmar Ismail, karya-karyanya berupa drama, Citra (1943), Api(1945), dan liburan seniman(1944) dikumpulkan dalam bukunya yang berjudul Sedih dan Gembira(1949). Sajak-sajaknya berjudul, Kita berjuang, Diserang Rasa dan Cahaya Merdeka dll
b.      Idrus dengan bukunya yang berjudul Corat-coret di bawah Tanah. Dramanya berjudul Kejahatan Membalas Dendam (1945), Dokter Bisma (1945).kemudian kejahatan membalas dendam kemudian dimuat dalam buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948).
c.       Amal Hamzah, karangannya berupa sajak dan prosa tahun 1942-1948 di kumpulkan dalam pembebasan pertama (BP 1949).
d.      EL. Hakim, pengarang sandiwara yang hebat sehingga sensor Jepang tidak mampu mencerna maksud yang disampaikannya. Drama-dramanya bernama Taufan di Atas Asia(1949), Intelek Istimewa,  dan Dewi Reni adalah pedang-pedang bermata dua yang penuh arti bagi bangsa Indonesia.
e.       Maria Amin, karangan-karangannya berupa Tinjaulah Dunia Sana, Dengar keluhan Pohon Mangga dan Penuh Rahasia.
f.       Chairil Anwar, penyair yang amat radikal dan revosioner serta individualis. Karangan-karangannya berupa:
Kerikil Tajam dan Terputus dan terhempas, Deru campur Debu dll.
Yang menyebabkkan drama pada zaman Jepang mendominasi karena:
a.       Produksi film pada masa itu berhenti.
b.      Jepang menggunakan sandiwara sebagai alat propaganda.
c.       Penonton tertarik karena peranan bahasa Indonesia
d.      Penonton lebih menyukai sandiwara karena mutunya bertambah baik akibat sensor Jepang yang ketat.
e.       Adanya dorongan yang kuat dari pusat sandiwara.
Lanjut Kehalaman Selanjutnya,.......!

Read more »

Lanjutan Pertumbuhan dan perkembangan sastra, III,.........



a.       Sanusi Pane. Lahir di Muara Sipongi (Tapanuli) 14 September 1905 dan meninggal 1 Januari 1968. Tulisan-tulisannya berupa sajak yang terkumpul dalam Pancaran Cinta, Puspa Mega dan Madah Kelana. Dalam karangan-karangannya dapat diketahui juga adanya pengaruh-pengaruh pada Sanusi Pane, misalnya
1.      Pengaruh Barat (Angkatan 80 Negeri Belanda). Hal ini didapatnya karenapendidikannya dan tampak dalam karyanya yang berjudul Puspa Mega (lukisan alam dalam bentuk sonata
2.      Pengaruh India, yang diperolehnya karena pengalamannya di India. Hal ini amat besar artinya bagi pandangan hidupnya. Tampak pada karyanya Pancaran Cinta dan Madah Kelana.
3.      Pengaruh jawa, diperoleh dari studinya pada kesusastraan jawa kuno. Hal ini tampak dalam dramanya Kartajaya dan Sandhyakala ning Majapahit.
Dalam karangannya baik yang berupa puisi maupun prosa, ia menghendaki dan mencari kedamaian dan keteduhan. Dunia ini dalam pandangan matanya hanyalah bersifat maya semata. Salah satu karyanya berbunyi:

Candi Mendut

Di dalam ruang yang kelam terang,
Berhala budha di atas takhta,
Wajahnya damai dan teduh tenang,
Di kiri dan kanan Bodhisatwa.

Waktu berhenti di tempat ini,
Tidak berombak, diam semata,
Asas berlawan bersatu diri,
Alam sunyi, kehidupan rata.

Diam, hatiku, jangan bercita,
Jangan kau lagi mengandung rasa,
Mengharap bahagia dunia maya.

Terbang termenung, ayuhai, jiwa,
Menuju kebiruan angkasa,
Kedamaian petala Nirwana.

                              Dari: Madah Kelana.

b.      Armin Pane, buaah tangan beliau berupa roman yang berjudul Belenggu (1940). Selain itu cerpennya berjudul Barang Tiada Berharga, sajak, esai dan sandiwaranya berjudul Lukisan Masa. Cerpen-cerpennya bersama yang ditulis sesudah perang, kemudian dikumpulkannya dengan judul Kisah Antara Manusia (1953). Sedang sandiwara-sandiwaranya dikumpul dengan judul Jinak-Jinak Merpati (1954). Sajak-sajaknya berjudul Jiwa Berjiwa, Gamelan Jiwa (1960) dll.

c.       Amir Hamzah  ( 1911-1946).buah tangan beliau dalam bentuk kumpulan sajak berjudul Buah Rindu (1941), Nyanyi Sunyi (1937).  Adapun kumpulan terjemahan sajak dari negeri-negeri tetangga seperti Arab, Persia, Jepang, India dll berjudul Setanggi Timur (1939).
Sajak-sajaknya yang pertama bernada keputusasaan, seperti yang terkumpul dalam buah rindu.
Bonda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda?
                              (Buah Rindu 1)

Bahkan kemudian iapun berpikir tentang maut, yang dipanggilnya supaya melepaskan dirinya dari nestapa yang gelap gempita menimpa anak lascar musafir lata ini.

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita
                      (Buah Rindu II)
Tetapi keputusasaan itu telah melampaui masa kesepian dan kebimbangan, dan setelah mengusi keraguan dan kewaras-warasannya sendiri, akhirnya menemukan kedamaian dalam tuhan yang disebutnya:
Kaulah kendil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu.
                      (Padamu Jua-Nyanyi Sunyi)
Salah satu sajaknya yang termuat dalam sajak Nyanyi Sunyi ber bunyi:
Astana Rela
Tiada bersua dalam dunia
Tiada mengapa hatiku sayangtiada dunia tempat selama
Layangkan angan meninggi awan

Jangan percaya hembusan cedera
Berkata tiada hanya dunia
Titikan tajam mata kepala
Sungkemkan sujud hati sanubari

Mula segala tiada ada
Pertengahan masa kita bersua
Ketika tiga bercerai rame
Di waktu tertentu berpandang terang

Kalau kekasihmu hasratkan dikau
Restu sempana memangku daku
Tiba masa kita berdua
Berkaca bahagia di air mengalir

Bersama kita mematah buah
Sempana bekerja di muka dunia
Bunga cerca melayu lipu
Hanya bahagia tersenyum harum

Di situ baru kita berdua
Sama merasa, sama membaca
Tulisan cuaca rangkaian mutiara
Di mahkota gapura astana rela.

d.      J.E. Tatengkeng (1907-1968). Karya-karyanya yang berupa sajak termuat dalam buku yang berjudul Rindu Dendam (1934). Isinya umumnya merupakan sajak-sajak kerinduDendaman penyairnya terhadap  Yang satu, Tuhan Yang Maha Esa. Ia seorang yang suka menyanyi-sunyi dan berkata:
Di tengah manusia
Aku tersia-sia
Mecari kabar
Yang agak benar
                      (Gadis Belukar)
Dan mengingatkan dirinya terbang sebagai burung yang lepas di alam semesta yang damai leluasa Mencari cinta mengarungi Angkasa:
O, lepaskan daku dari kurungan
Biarkan daku terbang melayang
Melampaui gunung, nyembrang harungan
Mencari cinta, Kasih dan Sayang.

Aku tak ingi dipagari rupa
Ku suka terbang tinggi ke atas,
Meninjau hidup aneka puspa,
Dalam alam yang tak batas…….
                              (Sukma Pujangga)
Kedamaian hati pun ia temui dalam kesadaran menerima kasih Tuhan, yang dikatakannya dalam bait terakhir dalam bait terakhir dalam buku kumpulan sajaknya.
O, Tuhanku
Biarkan aku menjadi nembunmu
Memancarkan terangmu
Sampai aku hilang lenyap olehnya,……..
                              (Rindu Dendam: Akhir Kata)
Lanjut kehalaman selanjutnya,......!
Read more »